Thursday, August 22, 2013

The Power of Kepepet - Anything's Possible!

Sekedar berbagi pengalaman. Pernahkah kalian mengalami ini:

"AAAAAGHHThe world's suddenly turning upside down!"

Beruntunglah buat kalian yang sudah mengalaminya. Berada dalam situasi ekstrim memang memberikan banyak sekali pelajaran baru yang tidak pernah kita duga akan mendapatkannya. Bisa saja situasi itu masih sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Tapi jika tidak? Saya yakin mayoritas orang pasti menjedotkan kepalanya ke tembok duluan sebelum mencari pemecahan masalahnya.

Itu yang terjadi pada saya beberapa waktu lalu... dan saya memang beneran njedotin kepala ke tembok, sih...

Judulnya, keluarga lagi kena masalah ekonomi. Parah, pula. Orang tua saya punya tanggungan 3 anak (termasuk saya), waktu itu masih pada sekolah. Entah apa yang saya pikirkan, saya sempat meminta untuk putus sekolah saja dan nyari kerja, sementara biarlah adik-adik saya yang masih sekolah dengan maksud meringankan beban SPP. Jelaslah permintaan saya ditolak.

Singkat cerita, kedua ortu terpaksa pisah. Waktu itu saya masih kelas 3 SMA, adik saya yang pertama kelas 1 SMP, dan adik terakhir kelas 3 SD. Rasanya nggak mungkin saya ninggal ibu yang notabene sudah mulai sepuh sama kedua adik saya yang masih kecil. Akhirnya, saya dan kedua adik tinggal bersama ibu sampai sekarang.

Kala itu kami benar-benar dituntut untuk memutar otak. Harga barang (bahkan untuk makan sehari-hari saja) tinggi. Pernah mencoba jualan seprei (bikin sendiri). Untuk skill-nya juga benar-benar mulai dari nol; kami belajar dari internet, buku, juga orang-orang yang paham tentang ilmu jahit-menjahit. Walhasil, usaha ini tidak dilanjutkan lantaran kurang tenaga.

Kami cari ide yang lebih simpel. Karena kami suka makan, akhirnya kami memutuskan untuk berusaha di bidang kuliner. Sekali lagi, skill kuliner pun mulai dari nol ('nyaris' lebih tepat). Ya, secara kasar kami memang suka makan, tapi kurang suka bikin, hehe...

Bermodalkan hasil jual mobil, kami berjualan risol. Sistemnya: pelanggan pesan, kami antar atau mereka yang datang mengambil. Mereka memesan perbiji dengan harga Rp3500,00. Jumlah pesanan pun bervariasi, mulai dari 10 risol sampai 100. Karena masih baru, pelanggan baru berasal dari orang-orang dekat saja. Lagipula tidak setiap hari mendapat pesanan, meskipun pernah sekali waktu kami kebanjiran order sebelum lebaran kemarinmarathon 200 risol dalam sehari. ALHAMDULILLAH masih lanjut sampai sekarang.

Lalu, di kala pesanan sepi kami mendapatkan ide baru (yang sebenarnya muncul sebelum bulan puasa), yaitu membuat snack cokelat. Ide ini di dapat ketika ibu mendatangi kursus masak kilat, kemudian dimodifikasi sedemikian rupa bersama saya. Snack cokelat ini ternyata jauh lebih mudah daripada risol. Akhirnya, kami jalani pula berjualan cokelat.

Sekalian promosi, yah? :D



 Choco-flakes : Rp20.000,000 ; 25 piece/toples

Coklat Kurma : Rp30.000 ; 25 piece/toples

Ini dia Top Two jenis snack cokelat yang paling laku kami jual~

Kami namai brand snack olahan cokelat ini: Homemade ChocolateBite size, tinggal leb. Cocok disajikan dingin dan cokelat tidak cair di suhu ruangan. Tahan kurang lebih satu bulan, InsyaAllah sehat, TANPA PENGAWET!

ALHAMDULILLAH, ini juga masih jalan. :D

Saya jadi kepikiran sesuatu...
Menjahit dan memasak sebenarnya bukan sesuatu yang ingin saya tekuni, bahkan jauh dari hobi yang saya jalani (menggambar) meski sama-sama berunsur seni. Tapi kalau tidak dilakukan, sama saja bunuh diri. Ya, mending kewalahan di awal lalu dapat hasil yang menyenangkan daripada senang-senang di awal berakhir jatuh terjungkal...

Yang penting HALAL. :)

Nah, bagaimana?
Jadi ingat cerita kocak ini, nih...

Jaman dahulu, ada seorang raja yang melakukan sayembara dalam mencarikan suami bagi putrinya. Sayembara itu menantang para peserta sayembara (pria tentunya) untuk menyeberangi kolam yang penuh buaya tanpa cacat. Banyak peserta yang mencoba, tapi selalu berakhir gagal di tengah jalan karena dimakan buaya. Tapi ada satu orang yang berhasil melewati kolam itu dengan begitu cepat dan selamat! Banyak orang yang menyelamatinya, bahkan sampai Sang Raja pun menanyakan 'rahasia' pria tadi dalam melakukan tantangannya. Beginilah ia menjawab:

"Sebenarnya saya juga takut masuk kolam. Justru saya mau tanya, siapa yang mendorong saya jatuh ke kolam tadi?!"

Oh well... The power of 'kepepet' sure surprising, eh?

No comments:

Post a Comment